ikrar perjalanan batas rantau

Ikrar Perjalanan Melunasi Batas Rantau

Berdekatan dengan orang yang beraura postif pasti akan membuat kita menjadi lebih bergairah. Demikian juga saat itu ketika kami sedang antri untuk menuju takdir kami masing-masing.

Aura itu terpancar dari sosok yang masih terbilang muda, energik dan penuh optimisme yang duduk bersebelahan dengan saya dan sibuk dengan kertas-kertas yang berisi coretan angka, huruf dan tabel.

Subhanallah, rupanya dia seorang volunteer yang dengan segenap kegembiraannya mengurusi anak-anak yatim dan dhuafa. Berusia sekitar 35-an, berasal dari keluarga sukses dengan beberapa perusahaan keluarganya. Bahkan dia sendiri sebetulnya sudah masuk dalam jajaran direksi tapi dengan kesadaran penuh dia tinggalkan semua itu demi “pengembaraan spiritualnya”.

“Apa ga sayang posisimu, Mbak? Kamu sudah bisa super mapan pada usia yang sangat muda.” Pertanyaan standar yang sudah bisa ditebak jawabannya.

“Saya lebih menyayangi masa depan saya, Mas. Terutama saat ruh saya mesti berpisah dengan jasad ini.”

“Maksudnya gimana, Mbak?” Saya agak bingung dengan jawabannya.

“Dengan posisi saya, nama besar keluarga, pencapaian sukses karir dan perusahaan, kebayang kan Mas bagaimana prosesi yang terjadi pada saat saya sudah terbujur kaku sebagai jenazah. Kematian saya pasti akan tersebar luas dengan sangat cepat dan responnya pasti luar biasa. Ratusan karangan bunga berjejer. Ucapan duka cita satu halaman penuh di koran nasional terkemuka. Jalanan di komplek perumahan saya ditutup, dijaga oleh aparat berseragam. Penuh sesak orang melayat dan berdoa. Mobil jenasah terbaik dan peti mati termahal siap untuk membawa saya ke rumah terakhir.” Tuturnya dengan mimik meyakinkan.

“Kan ga ada yang aneh, Mbak?” Serius saya masih belum ngeh.

“Sepintas mungkin biasa saja, Mas. Tapi apakah pada saat itu anak-anak saya, keluarga saya yang akan memandikan jenazah lalu mengkafaninya sebagai bukti cinta mereka kepada saya?” Sumpah mulai merinding saya.

“Lalu apakah tamu-tamu saya para pejabat negara, para petinggi perusahaan, kaum sosialita yang akan mensolatkan jenazah saya? Lalu bagaimana jika saya disolatkan hanya oleh belasan orang saja atau jangan-jangan jamaahnya masih bisa dihitung dengan jari? Saya takut itu terjadi dengan saya, Mas. Karena saya pernah melihat kejadian seperti itu.” Raut mukanya sedikit berubah.

Bukankah kita akan diwafatkan pada kondisi yang sesuai dengan kebiasaan dan perilaku kita. Apakah fasilitas platinum kita ini akan menolong kita kelak? Apakah tiket kelas bisnis kita ini akan menjadi saksi yang meringankan dosa kita?” Astaghfirullah… Kali ini giliran sudut mata saya yang mbrebes mili.

“Saya melakukan ini semua hanya ingin mendapatkan teman, sahabat yang betul-betul ikhlas mensolatkan saya padahal mungkin mereka harus datang dari jauh. Mereka yang ikhlas memintakan ampunan saat jasad ini sudah membeku. Mereka yang terus mengalirkan kebaikan saat kita sudah berkalang tanah. Mereka yang doanya menembus batas semesta melesat ke arasy, ke singasana Sang Maha Pengampun.” Jleebbb…

Ya Allah, Engkaulah dermaga tempat ikrar perjalanan melunasi batas rantau pulang. Kala jiwa tersesat di pintu dunia, Engkaulah samudera tempat senjaku membenamkan usia,melarungkan maut yang membadai di pantai jiwa..

Indahnya berbagi, karena berbagi tak pernah merugi.

 

Sempurnakan kebaikan kita, sempurnakan hidup kita dengan menyempurnakan pendidikan anak-anak dhuafa melalui beasiswa pendidikan dengan transfer ke No Rekening : BCA 762.090.0081 a/n Yayasan Kalpati. Kebahagiaan mereka sesungguhnya adalah kebahagiaan kita.

No Kontak : +62 – 816-413-811, +62 – 811-130-339, donasi@ge-ser.org
Alamat : Komp. Cimone Mas Permai No. 14, Kota Tangerang, Banten
Akta Notaris No. 45, Tgl 29 Agustus 2014; NPWP : 66.229.616.9-402.000.
SK Menteri Hukum & HAM : Nomor AHU-05290.50.10.2014