isi lembaran-lembaran penyelamat

Pagi itu tepat seminggu yang lalu saya mengikuti “ritual” semesteran, mengambil raport dan menjemput anak tercinta dari Nurul Fikri Boarding School di Anyer, Banten. Lazimnya para orang tua yang menunggu antrian pengambilan raport, kami berbincang ringan sampai setengah berat dengan sesama wali siswa yang berkumpul di depan kelas. Mereka berasal dari berbagai daerah yang dekat maupun jauh. Terjauh dari Pulau Borneo sana yang sengaja mencarikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Mereka, terutama yang jauh sekalian ingin menghabiskan liburan akhir tahunnya di sekitaran Pantai Anyer, Carita dan Tanjung Lesung. Mereka penasaran dengan kemolekan pantai-pantai sepanjang pesisir Banten itu.

“Hati-hati, Pak. Gunung Anak Krakatau mulai aktif lagi. Jangan sampai ada musibah seperti yang kemarin terjadi di Lombok dan Palu.” Ujar saya pada salah satu keluarga orang tua siswa yang usianya terpaut hampir dua digit dengan saya. Lalu mengalirlah obrolan kami tentang musibah itu.

“Iya, Mas. Allah itu sudah terang benderang memberikan peringatan dan pertanda kepada kita. Tapi kita masih saja tidak mau membuka mata hati kita. Apa yang membuat lidah kita kelu dan hati ini mengeras untuk beristighfar? Sadarlah bahwa setiap hari dosa semakin bertambah. Apa yang membuat kita enggan menyambung silaturahmi, kecuali hanya pada orang yang “sealiran” dan lalu kita terbelah hanya karena berbeda pilihan?” Dugg.. Bener banget omongan si Bapak ini.

“Apa yang mendorong hati kita untuk terus bergelimang dendam, permusuhan, serakah dan angkuh, padahal kita tidak memiliki apapun kecuali seijinNya? Padahal Tuhan sangat tidak menyukai mereka yang serakah, sombong dan angkuh. Ingat lho, Mas belum tentu usia kita sampai besok dan apakah bekal kita untuk hidup di akhirat sudah cukup?” Lanjut beliau.

“Iya ya, Pak. Kita ini masih saja belum mau “berbalik arah” menjadi semakin baik.” Timpal saya.

“Lha iya begitu. Apa yang memberati kita untuk tidak segera bergegas memenuhi panggilan Robbmu, ketika azan berkumandang? Padahal sholat itu adalah amalan pertama yang akan diperhitungkan, saat kita di yaumil hisab kelak. Apa yang mengganjal mulut kita untuk tidak membaca dan mengkaji isi lembaran-lembaran penyelamat atau yang lazim kita sebut kitab suci Al-Qur’an ? Padahal itu petunjuk hidup dan obat bagi hati yang kelam. Lalu buat apa kita melanjutkan hidup ini jika masih belum bisa berubah?” Angin pegunungan semilir menerpa wajah-wajah kami pagi itu.

“Bagi mereka yang tertimpa musibah mari kita sayangi mereka. Mungkin mereka belum sebaik dirimu. Masih banyak berbuat yang tidak benar. Tapi jangan-jangan, dulu kita lebih parah dari mereka. Tidak perlu kita vonis bahwa